Ex-trainee PT JIAEC/Hary Fitrah
Saya menjalani program magang di Jepang selama tiga tahun. Alhamdulillah selama di sana saya mendapatkan perusahaan yang baik. Rekan kerja orang Jepang juga ramah, welcome, dan sangat perhatian kepada kami sebagai trainee dari Indonesia. Pekerjaan yang saya jalani pun sesuai dengan minat saya, sehingga banyak hal positif yang saya dapatkan selama berada di Jepang.
Dukanya tentu harus jauh dari keluarga, terutama orang tua. Bahkan enam bulan setelah saya berada di Jepang, saya kehilangan kakek tercinta dan tidak bisa pulang ke Indonesia.
Saya juga mengalami culture shock, terutama saat menghadapi musim dingin. Karena saya berasal dari daerah pesisir di Indonesia yang cuacanya panas, merasakan musim dingin di Jepang menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan bagi saya.
Ada juga pengalaman unik yang sampai sekarang masih saya ingat. Waktu baru sekitar satu atau dua minggu di Jepang, saya mencoba belanja kebutuhan sehari-hari sendiri. Saat itu kemampuan bahasa Jepang saya masih pemula, jadi ketika membeli daging saya hanya melihat harganya yang murah tanpa benar-benar membaca jenis dagingnya. Dengan percaya diri saya selalu mengambil daging tersebut, karena posisinya juga berada di dekat rak daging sapi.
Hal itu berlangsung cukup lama, bahkan sekitar tiga bulan. Sampai suatu hari ketika saya sedang berbelanja, saya bertemu dengan sensei bahasa Jepang saya. Beliau melihat belanjaan saya dan langsung terkejut, “Loh, kok beli daging babi?” Saat itu saya juga kaget dan baru sadar bahwa selama ini saya salah membeli daging. Ternyata selama kurang lebih tiga bulan saya tanpa sadar mengonsumsi daging babi. Dari pengalaman itu saya belajar pentingnya memahami hal-hal dasar di Jepang, terutama terkait makanan.
Saat merasa jenuh bekerja, saya biasanya pergi ke coffeshop terdekat untuk bersantai sambil belajar bahasa Jepang. Kadang saya juga bermain game di apartemen atau di coffeshop, atau sekadar berjalan-jalan ke mall. Bagi saya, kegiatan sederhana seperti itu sudah cukup untuk menghilangkan penat. Kebiasaan belajar tersebut masih saya lanjutkan sampai sekarang. Saat ini saya bekerja sebagai Electrical Engineering di anak perusahaan yang berkaitan dengan tempat saya magang dulu, sehingga saya memang harus terus belajar untuk menambah wawasan di bidang tersebut.
Sebelum kembali ke Indonesia, saya juga mempersiapkan kemampuan bahasa Jepang serta membawa kebiasaan disiplin dan tepat waktu yang saya pelajari selama di Jepang. Alhamdulillah, setelah kembali ke Indonesia saya mendapatkan kesempatan bekerja di anak perusahaan yang berkaitan dengan tempat saya magang, bahkan melalui rekomendasi dari perusahaan di Jepang.
Pesan saya untuk teman-teman yang akan berangkat ke Jepang, jagalah kesehatan dan terus tingkatkan kemampuan bahasa Jepang. Jangan hanya mengandalkan pelatihan saja, tetapi juga belajar sendiri di rumah, terutama kosakata dan percakapan. Selain itu, pelajari juga hal-hal penting dalam kehidupan sehari-hari di Jepang, terutama soal makanan, apalagi bagi yang beragama Islam.
Dan yang tidak kalah penting, selalu taati aturan yang sudah ditetapkan karena aturan tersebut dibuat untuk kebaikan para trainee.
Narasumber : Hary Fitrah
Edtitor : Ririe Lovina Putri