Yusuf Ramdhani (Ex-trainee JIAEC)
Memiliki kesempatan untuk bisa magang ke Jepang merupakan hal yang sangat berharga bagi saya. Banyak hal yang saya pelajari, mulai dari cara bekerja, berkomunikasi, hingga membangun kedisiplinan yang kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan karir setelah kembali ke Indonesia.
Selama menjalani 3 tahun pemagangan, tentu terdapat tantangan yang harus saya hadapi. Utamanya, saya harus menjalani proses adaptasi dalam berkomunikasi. Ketika di perusahaan, tidak ada senpai Indonesia yang bisa membantu saya dan teman-teman untuk berkomunikasi dengan orang Jepang. Hal tersebut membuat saya dan teman-teman seperjuangan harus saling mengingatkan dan mencari cara bersama agar dapat dimengerti oleh orang Jepang. Selain itu, kita juga harus beradaptasi dengan lingkungan serta cuaca 4 musim. Walaupun begitu, banyak hal yang dapat saya pelajari. Di balik tantangan yang ada, saya juga memiliki banyak pengalaman yang menyenangkan, salah satunya yang bahkan membuat orang Jepang terkejut adalah pernyataan bahwa saya pertama kali naik kereta saat di Jepang, karena sebelumnya di Indonesia saya belum pernah menaiki kereta.
Kala merasa jenuh dengan rutinitas bekerja, saya suka mengunjungi tempat wisata bersejarah, terutama saat musim gugur. Saya juga gemar olahraga seperti jogging, seringnya di hari libur saya berlari menyusuri tepian sungai sambil melihat air sungai yang jernih dengan ekosistem yang terjaga di Jepang. Hobi berolahraga itu masih saya lakukan hingga saat ini, selain dapat menenangkan pikiran, tubuh akan terjaga karena aktivitas olahraga yang rutin dilakukan.
Sebelum kembali ke Indonesia, tentu saya mempersiapkan bekal ilmu dan pengalaman yang matang, karena saya ingin apa yang saya dapatkan di Jepang bisa bermanfaat untuk menunjang karir saya ketika di Indonesia, dari mulai ilmu berkomunikasi, bekerja, serta kemampuan Bahasa Jepang. Satu bulan setelah kembali ke Indonesia, saya bekerja selama 2 tahun di perusahaan kontraktor. Kemudian memutuskan untuk fokus memulai dan mengembangkan UMKM yang saya miliki dengan bermodalkan ilmu disiplin yang saya peroleh dari Jepang. Saya juga mengajar bahasa Jepang secara freelance hingga saat ini. Tidak cukup disitu, saya juga merasa bahwa masih banyak hal yang harus saya pelajari, terutama dalam hal berbisnis sehingga saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan jenjang S1 Manajemen Pemasaran untuk membentuk pondasi berbisnis yang baik dan benar. Alhamdulillah saat ini gelar sarjana sudah saya miliki.
Merasa ada yang kurang dalam menjalankan manajemen pemasaran, saya kemudian mendapat informasi lowongan pekerjaan dari program pasca magang PT JIAEC untuk mengisi posisi “sales Japanese speaker” di sebuah perusahaan Jepang di Indonesia. Karena sesuai dengan apa yang saya minati, tanpa ragu saya mengikuti seleksi tersebut. Alhamdulillah saya diterima dan masih bekerja di perusahaan tersebut hingga saat ini.
Kepada rekan-rekan trainee baik yang akan atau sudah di Jepang. Tetap semangat meskipun proses yang dijalani terkadang sulit, karena pada dasarnya tidak ada proses yang mengkhianati hasil. Jangan merasa puas dengan pencapaian kalian saat ini, terutama belajar tentang "HORENSO", karena dengan belajar HORENSO dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang di sekitar kita. Jangan merasa puas dengan bahasa Jepang yang kalian bisa saat ini, sebisa mungkin ikuti proses ujian JLPT dengan baik, karena akan sangat bermanfaat ketika ingin berkarir di Indonesia.
Narasumber: Yusuf Ramdhani
Editor: Ririe Lovina Putri